Monday, February 20, 2012

Preman 'bersorban'


Hadeuh, berita di tipi isinya serem-serem amat.. Kecelakaan lah, demo buruh, si John Kei, dan lagi-lagi FPI. Cuma bisa ngelus dada.. (dada-nya jupe, HAISSSSSSSSSSSSHH!!). ngomong-ngomong soal FPI ga ada abis nya emang dah..

FPI menjadi sangat terkenal karena aksi-aksinya yang kontroversial sejak tahun 1998, terutama yang dilakukan oleh laskar paramiliternya yakni Laskar Pembela Islam. Rangkaian aksi penutupan klab malam, tempat pelacuran dan tempat-tempat yang diklaim sebagai tempat maksiat (menurut mereka loh..), ancaman terhadap warga negara tertentu, penangkapan (sweeping) terhadap warga negara tertentu, konflik dengan organisasi berbasis agama lain adalah wajah FPI yang paling sering diperlihatkan dalam media massacitation needed (assik.. keren kan bahasa gue..)

Karena aksi-aksi kekerasan mereka itulah masyarakat resah, termasuk dari golongan Islam sendiri, beberapa ormas menuntut agar FPI dibubarkan. walaupun FPI membawa nama agama Islam, pada kenyataannya tindakan mereka bertentangan dengan prinsip dan ajaran Islami, bahkan tidak jarang menjurus ke vandalisme. Sedangkan si FPI membela diri, tindakan itu dilakukan oleh oknum-oknum yang kurang / tidak memahami Prosedur Standar FPI (preeet..!)

Insiden Monas adalah sebutan media untuk peristiwa penyerangan yang dilakukan FPI terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKBB) di silang Monas pada tanggal 1 Juni 2008. setelah peristiwa tersebut gue inget, Pak BeYe mengadakan Rapat Koordinasi Polkam yang membahas aksi kekerasan tersebut. Presiden dalam jumpa persnya mengatakan negara tidak boleh kalah dengan perilaku kekerasan, menambahkan bahwa aksi-aksi kekerasan telah mencoreng nama baik di dalam dan di luar negeri. But after that??? Wakwaooo bhussssssssssshhhh... gone..

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri, harus mengevaluasi sejumlah organisasi kemasyarakatan, terutama yang sering melakukan tindakan anarkis. lalu dievaluasi apakah ormas itu terdaftar atau tidak di Kemendagri. Selama ini aparat tidak ada yang menindak ormas FPI yang melakukan tindakan kekerasan, sehingga menjadi besar kepala. Ini menunjukkan adanya oknum aparat yang membekingi FPI selama ini. Seperti peristiwa pemukulan terhadap massa "Gerakan #IndonesiaTanpaFPI” di Bundaran HI kemarin. Hal ini tidak lepas dari dasar pembentukannya oleh kelompok pembesar dengan tujuan dipakai untuk "back up" aksi-aksi yang tidak bisa menggunakan aparatur negara. Mengenai adanya penolakan dari warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah, mengenai keberadaan salah satu ormas FPI, menurut gue, masukan masyarakat menolak atau menerima ormas adalah bagian demokrasi yang harus dijunjung tinggi. Siapa yang merusak atau melanggar nilai-nilai Pancasila pasti masyarakat mempunyai reaksi. Reaksi dari masyarakat itu adalah bagian-bagian bahwa nilai-nilai DNA darah orang Indonesia itu menjunjung tinggi Pancasila. Jika yang terjadi adalah anarkisme atau kekerasan terhadap pihak lain, yang merugikan dan terbukti sah secara hukum, maka kewajiban aparat untuk segera menindak, menangkap pelaku dan membubarkan ormas yang melakukan kekerasan tersebut. Masalahnya jika terjadi konflik horizontal, kerugian bagi semua.

Kalau memang kalian semua wahai FPI percaya sama ajaran hari pembalasan, seperti kata temen ane, “ngapain capek-capek dan mesti repot-repot menjadi ‘hakim’nya!”. Tapi kalau dipikir-pikir juga, FPI itu ada guna nya juga loh. Gue bisa belajar gimana tetap terlihat suci padahal berlumuran dosa, hahaahahahaa (astaghfirullah.. maapin aim yaa awoh).

Yaah sudahlah yah.. cape ngomongin mereka. Mending makan “double dutch”.

Wassalam.

No comments:

Post a Comment