huaaah seger abis mandi.. seharian dijalan, sekarang saatnya merenggangkan otot-otot yang tegang.. udah dikasur, minum teh manis anget, buka leptop, mari kita menulis..
selama perjalanan menuju rumah tadi, hampir semua jalan di Jakarta
mengalami kemacetan yang cukup membuat gue, atau mungkin kita semua pusing,
kesal, dan uring-uringan akibat kemacetan yang terjadi. Sebenarnya sederhana aja
menurut gue, kemacetan itu disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pertambahan
jumlah kendaraan dan pertambahan jumlah jalan. Kemacetan di Jakarta itu setiap
saat. Ga peduli pagi, siang, sore, malem, dini hari pun masih. Jadi mungkin kuncinya
adalah manejemen waktu. Yaitu dimana kita bisa mengatur waktu kita dalam
mengatur kapan kita akan bepergian.
Permasalahan
kemacetan kalau kita lihat sekarang ini selalu diselesaikan dengan pembangunan
jalan. Jalan tol atau jembatan layang, itu bukan solusi. Karena setiap
penambahan jalur baru akan menciptakan kemacetan baru. Bener ga?? Ditambah selama
ini pertambahan jumlah kendaraan meningkat dengan pesat. Selain itu, faktor
yang turut berperan dalam kemacetan adalah banyak pengendara yang tidak
disiplin dan tidak mematuhi peraturan berlalu lintas, termasuk gue sendiri
(kadang-kadang..), mungkin solusi dari masalah kemacetan tersebut mungkin adalah
di transportasi. Sehingga harus ada pembenahan di sektor transportasi publik.
Beberapa
cara telah ditempuh dalam mengatasi kemacetan, seperti memberlakukan 3in1 pada
jalan-jalan tertentu dan membangun transportasi busway, tapi nampaknya usaha
tersebut tetap saja tidak bisa mengatasi kemacetan. Khusus untuk busway,
transportasi massal jenis ini memang sangat dibutuhkan, tapi bukan untuk
mengatasi kemacetan, justru sebaliknya, karena jalan yang digunakan oleh busway
tidak dibarengi dengan pelebaran jalan, sehingga jalan semakin sempit akibatnya
makin menimbulkan kemacetan. Di samping itu masyarakat pengguna busway justru
dimonopoli oleh masyarakat yang notabene tidak memiliki kendaraan roda empat.
Bener?? Pertanyaan nya sekarang adalah, bagaimana caranya pengguna kendaraan
roda empat beralih ke busway?? Jujur gue sendiri males beralih ke busway,
kenapa?? Selain menuju busway nya mesti ngangkot dulu, di dalem busway terlihat
sumpek, dan haltenya pun masih membingungkan. Jadi yaa lebih prefer pakai motor
atau yaa yang pasti-pasti aja, mobil.
Tapi
gue tekankan disini, gue prefer memilih kendaraan pribadi, dan gue siap dengan
segala konsekuensi nya, salah satu nya yaa kemacetan. Dan gue selama ini menikmati
kemacetan tersebut, karena gue yang memilih untuk memakai kendaraan pribadi, jadi
gak akan pernah komplen. Apalagi sampai galau tentang kemacetan di twitter,
hadeuh gak banget. Agak bingung sih sama yang sering galau di twitter yang
slalu mengeluh akan kemacetan. Come on, kita sendiri kan yang memilih untuk
menggunakan kendaraan pribadi, baik motor atau mobil. Jadi yaa nikmatin aja
perjalanan nya, jangan mengeluh, dan akhirnya tidak tertib dijalan, apalagi
sampe mengambil alih fungsi trotoar, yang disitu terdapat hak nya para
pedestrian.. duh parah parah parah. Atau gampangnya yaa pakai transportasi
masal kalo gak mau cape nyetir motor atau mobil, gampang toh, walau kena macet
yaa tinggal duduk manis. Jangan bisanya ngeluh + nge-galau di twitter (sori
buat yang tersungging, eh tersinggung..)
mungkin
bisa menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan, antara lain:
1. Jalur 3in1 lebih diperluas wilayahnya dan tidak menggunakan batas waktu.
2. Jalan-jalan yang dilalui busway yang menyebabkan penyempitan badan jalan harus segera diperlebar.
3. Membangun transportasi massal lain, seperti misalnya subway atau monorel, gak peduli biaya nya berapa, bukan urusan gue itu, hahaha.
4. Menerapkan usia kendaraan yang layak beroperasi. Ini juga dapat mengurangi polusi.
5. Memperbanyak dan terus menerus mengingatkan masyarakat melalui spanduk, brosur, ataupun iklan tentang disiplin berlalu lintas. Baik di media Cetak ataupun media elektronik.
1. Jalur 3in1 lebih diperluas wilayahnya dan tidak menggunakan batas waktu.
2. Jalan-jalan yang dilalui busway yang menyebabkan penyempitan badan jalan harus segera diperlebar.
3. Membangun transportasi massal lain, seperti misalnya subway atau monorel, gak peduli biaya nya berapa, bukan urusan gue itu, hahaha.
4. Menerapkan usia kendaraan yang layak beroperasi. Ini juga dapat mengurangi polusi.
5. Memperbanyak dan terus menerus mengingatkan masyarakat melalui spanduk, brosur, ataupun iklan tentang disiplin berlalu lintas. Baik di media Cetak ataupun media elektronik.
6.
Mengganti alat transportasi anda, bukan kendaraan bermotor, bukan transportasi
masal, tapi SEPEDA. Bike 2 Work. Selain bebas polusi, Sehat, Bebas Macet, walau
mungkin akan lebih sering untuk mampir ke warteg-warteg terdekat karena
‘pembakaran’ lebih banyak, hahaha
Apa yg
gw tulis diatas sangat mungkin sudah dipikirkan oleh pejabat yang
berkepentingan, para ahli ataupun pemerhati transportasi. Namun kenyataannya
sampai saat ini hampir tidak ada aksi yang nyata, dalam mengatasi kemacetan di
Jakarta. kalaupun ada, maaf hanya anget-anget tahi ayam. Di negara ini terlalu
banyak orang pintar, tetapi sangat sedikit orang yang bisa atau mau mengimplementasikan
ilmu yang dimilikinya. Mungkin juga sangat berhubungan dengan kesejahteraan.
Karena pemerintah atau pejabat, lebih memikirkan perut sendiri dari pada
memikirkan perut rakyat (njing bahasa gue). Memang diperlukan dana yang tidak
sedikit, tapi kalau dibandingkan dengan uang yang negara yang lenyap akibat
korupsi.. wah tidak bisa dibayangkan!
Akhir kata, sebagai warga negara yang baik, yang perduli sama negaranya, gue merasa terpanggil untuk memberikan pikiran-pikiran yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh pejabat yang berkepentingan. Kalaupun tidak, setidaknya gue telah berusaha memikirkan kemajuan diri gue sendiri.
Akhir kata, sebagai warga negara yang baik, yang perduli sama negaranya, gue merasa terpanggil untuk memberikan pikiran-pikiran yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh pejabat yang berkepentingan. Kalaupun tidak, setidaknya gue telah berusaha memikirkan kemajuan diri gue sendiri.
Wassalam.

No comments:
Post a Comment